Ketika Semuanya Terus Saja Berteriak 🔊
Sudah seharian ku goes sepeda butut setia ini. Harus bilang apa sama istriku, barang dagangan laku tak seberapa. Belum lagi omongan para calon pembeli yang tidak jadi beli. Dari yang melambaikan tangan tanda tidak, sekedar nanya tapi tak beli, mencaci, mengoreksi bagai juri Master Chef di RCTI dan sebagainya. Seolah aku berjalan seorang diri tapi disepanjang jalan semuanya berteriak memaki-maki. Berbeda bila di lain hari, saat barang laku laris manis. Tiada yang berteriak, semuanya tenggelam dalam kenikmatan. Hati tentram semangat lagi. Coba tiap hari begini. Bisa cepat kaya aku nanti.
Tiba-tiba teringat kisah di sekolah. Ketika ada seorang yang pintar, semuanya kagum dan bangga, mulai guru, orang tua, kawan juga tetangga. Harapan membuncah, seolah masa depan ada di genggaman dan terbayang rezeki yang melimpah. Berbeda dengan si tak pintar. Prestasi tak ada, bertingkah polah pula. Guru menyerah, orang tua pusing, kawan menjauh, tetangga tak peduli. Semuanya berteriak, menghujat, kadang nasehat seolah sudah terlalu bejat. Masa depan tak ada, suram, berantakan, dan kacau.
Lalu ketika semuanya terus saja berteriak, apakah harus ku hentikan goes demi goes sepeda butut itu? Jika saja terhenti, apakah terfikir untuk menggantinya dengan yang lain? Semudah itu kah? Yang jelas perjuangan hidup jangan pernah terhenti oleh teriakan apapun kecuali teriakan Sang Maha Hidup yang mengakhiri langkah dan desah nafas.
Semangaat... Untuk terus goes dan terus goes.. Jn mnyerah. 💪
BalasHapusSip
BalasHapusBeginilah hidup, roda akan terus berputar. Suatu saat bisa kt lihat yg kurang di sekolah lebih kaya daripada sipintar.
BalasHapusYa begitulah hidup. Semangat bpk
BalasHapus