Sampah Itu Menuntut Kita 🤐
Kami bertiga bergegas keluar rumah. Hari ini hari senin, jadual kami untuk berkunjung ke rumah Orangtua yang terletak tidak terlalu jauh, di pinggiran desa sebelah. Pakai motor juga sampai, yah... Kami berangkat bersama, bertiga memakai satu motor. Seandainya motor tua ini bisa bicara, pastilah sudah berteriak gak kuat membonceng kami bertiga.
Setelah mampir sebentar di POM Bensin ditengah perjalanan, plus sedikit membeli buah tangan, sekilas kami melihat tulisan cukup menarik perhatian.
"SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, masa buang sampah sembarangan."
Kalau di pikir pikir, iya juga ya. Kayak percuma ya sekolah tahunan. Bahkan belasan tahun makan bangku sekolahan. Tapi sekedar buang sampah pada tempatnya saja tidak bisa. Sia sia juga biaya yang selama ini dikeluarkan untuk pendidikan anak anak kita. Weis... Rugi... rugi banget deh...
Kepedulian akan membuang sampah pada tempatnya, secara tidak kita sadari menjadi perilaku yang membudaya. Tanpa sadar juga menjadi saling mewarisi antara orangtua dengan anaknya, atasan dengan bawahannya, kakak dengan adiknya juga guru dengan muridnya. Bila hal ini terus saja berulang akan menjadi lingkaran setan yang sulit kita benahi. Karena faktanya membuang sampah sembarangan merupakan hal yang buruk yang merusak keindahan, penyebab timbulnya bibit penyakit dan awal dari bencana yang lebih besar.
Jangan pula kita lupakan pasca kita meninggalkan dunia yang penuh dengan cinta palsu, kesenangan yang melenakan serta amal yang menipu, yaitu alam akhirat. Alam yang penuh dengan permintaan tanggung jawab. Apapun itu akan menuntut kita, bisa jadi termasuk sampah yang kita buang tidak pada tempatnya. Lalu apa jawaban kita??? Sedang yang menjawab tangan dan kaki kita.
#bilakah hidayah itu datang?
Sy paling sebel dgn sampah streifoam..
BalasHapusKeren pa..
BalasHapusTerimakasih sudah mengingatkan...