Satu Gelas Berempat ☺
Kebiasaan kami waktu kecil dulu, meminum sisa kopi yang disajikan untuk Ayah. Walaupun cuma sisa, nyatanya waktu itu nikmat banget. Serasa meminum kopi yang ada di kafe-kafe kekinian. Sebenarnya minta dibuatkan sama ibu atau buat sendiri bisa saja. Tapi entah mengapa kopi sisa dari gelas Ayah begitu menggoda. Sampai terkadang kami kakak beradik bersitegang gara-gara kopi sisa itu.
Sebenarnya kami dengan Ayah tidak begitu dekat walau kami sering meminum sisa kopinya. Seingat kami, pasca kami masuk sekolah dasar, Ayah terasa semakin jauh. Kami tidak pernah ngobrol bersama. Seandainya ada pembicaraan, seringkali apa yang kami lakukan tampak selalu salah di hadapan Ayah. Ayah cenderung lebih banyak diam bila dirumah, kami sebagai anaknya pun merasa canggung tuk sekedar menyapanya. Dan hal itu berlangsung cukup lama, sampai sebagian kami telah menikah dan mempunyai keturunan.
Perubahan pada diri Ayah cukup signifikan terjadi semenjak Ibu kami meninggal dunia. Kelihatan Ayah cukup terpukul, belahan hatinya telah berpulang ke Rahmatullah. Sedikit demi sedikit sudah mulai cair meskipun belum berubah seratus persen. Kami anaknya pun mulai belajar membuka diri, berkomunikasi dengan baik dan lebih banyak mendengar. Kami sudah tidak peduli lagi, apakah pembicaraan itu berisi kritikan atau amarah atau apalah, yang penting Ayah kami bahagia mengisi sisa hidupnya.
Satu gelas berempat pagi ini. Teh yang disajikan manis oleh istriku. Kami nikmati bersama, ngobrol bersama, menonton tv bersama juga bermimpi bersama. Kami sadar kebersamaan dalam keluarga begitu penting untuk semua pihak. Ayah, Ibu dan anak adalah satu kesatuan, yang bila diramu dengan sedemikian rupa juga dituntun agama akan berdampak luar biasa. Jika keluarga kuat, negara pun akan kuat.
#kembali ke keluarga kita
Setuju..keharmonisan negara, berawal dr keluarga
BalasHapusNikmat tak terhingga..bs ngobrol n mnum teh bersama.
BalasHapus