TERONGGOK 🤐


Sekitaran tahun 2007 an, menikmati masa "terjun bebas" pasca mengundurkan diri dari perusahaan tempat mengais nafkah sebelum nya. Dengan membuka usaha, hasil kerja sama bareng kawan yang baik. Berjalan lah tertatih usaha tersebut dan akhirnya usai di sepertiga awal tahun 2008. Maklum lah masih newbie, belum faham seluk beluk usaha dan masih terus harus belajar. 

Di tahun itu pula ada satu kejadian yang cukup menarik. Tersiar kabar ada seorang "tokoh" preman meninggal dunia. Preman yang konon kabarnya ditakuti di lingkungan sekitar nya. 

Alhamdulillah.... 
Ungkapan khalayak ramai pada umumnya, menyambut kematian sang preman yang ditakuti dan tentu nya meresahkan. Cukup unik ya, biasanya kalau ada yang meninggal maklum nya mengucapkan innalillaahi wa inna ilaihi roojiun sambil merasa sedih kehilangan. Lah ini kebalikannya bersyukur dan bahagia. 
Ampun... 

Kalau di pikir pikir lagi, kita masuk kategori manusia seperti apa ya? Apalagi bila kematian telah menghampiri. Teronggok sendiri, tidak bisa berbuat apa apa lagi. Jangan kan berbuat jahat, beribadah saja kita sudah tak mampu. Semuanya benar benar terhenti dan akhirnya harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita dihadapan Ilaahi Robbi.

Ya teronggok sendiri, tiada yang menemani, seperti barang usang yang tiada terpakai lagi. Lepas semuanya dari diri kita. Popularitas, penampilan, kekayaan dan sebagainya. Bedanya dengan barang usang, kematian kita merupakan gerbang menuju kebahagiaan abadi atau penyesalan yang tiada ujung nya. 

# Terpaksa atau dipaksa 3

Komentar

  1. Seperti barang rongsokan...tapi ada juga barang rongsokan yang masih bisa di pakai...seperti saya nini yang masih di pakai buat mengasuh cucu saya berkunjung dengan silatutahmi

    BalasHapus
  2. Semoga kebahagiaan abadi yg menanti..

    BalasHapus
  3. semoga saat kembali pada Sang Khalik kita bisa bawa bekal yg banyak ya, insyallah, terus berkarya, trmksh self reminder

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara ⏳

IRI

KEHILANGAN