Sudut Pandang 🌷


Utara 
Pagi itu matahari belum beranjak tinggi. Tersenyum menerima hari, agar lebih semangat lagi. Di seberang pagar seorang lelaki, baru saja keluar dari pintu rumah sederhana. Tampak bersiap membawa bekal peralatan tukang lengkap di dalam tas besarnya. Sejenak berpamitan dengan keluarganya yaitu istri dan keempat anaknya. Meski dua anaknya yang terkecil masih tertidur pulas bersama mimpi mereka, lelaki tersebut enggan membangunkannya. 

Menuju motor yang berusia selisih dua puluh tahunan dari nya, namun nampak terawat klasik ga kalah dengan motor baru. Sekali dua kali di starter, motorpun berlalu membawa pemiliknya. Semakin jauh sampai tak nampak lagi punggung serta tasnya yang besar. 

Lelaki serba bisa yang luar biasa. Tukang bangun rumah dari nol, renovasi, service mesin cuci, service kipas angin dan lain-lain. Tidak seperti suamiku yang tak bisa apa-apa. Betulin atap bocor ga bisa, bikin bangku jongkok ga bisa, dagang ga telaten, kerja lelet, pokoknya banyak kurangnya deh... 

Selatan
Ououh sudah jam berapa ini? Mataku coba kubuka namun masih terasa berat. Keluar kamar lalu menuju pintu depan. Setelah pintu depan terbuka nampak lelaki diseberang pagar baru saja pulang dari mushola sebelah. Ah hari ini shubuh yang syahdu tertinggal kembali. Masih rapi bersarung dan berkopiah hitam khas muslim nusantara. Tampak teduh raut mukanya, selalu saja tersenyum, ramah bila disapa dan selama bertetangga belum pernah aku melihat lelaki itu berekspresi marah-marah. 

Lelaki itu seolah lelaki yang sempurna, tidak seperti suamiku. Tidak pernah sholat, mudah marah, merokok yang tak pernah putus, ramadhan berlalu begitu saja tanpa puasa, selalu merasa benar sendiri. Ah semakin malas mengungkapkan semuanya.... 

Dua mata angin yang lain pun berlalu, tak peduli dengan ratapan yang terjadi. Kumpulan ayam saling pandang, semak belukar semakin menjalin pelukan, semut-semut berlarian, burung Dara pun berpindah haluan. Pagar benar-benar menjadi batas dari keangkuhan sudut pandang. Kemanakah rasa puas dan syukur diri dihempaskan? Ini ujian bagi diri, sampai titik yang telah ditetapkan Sang Ilaahi Robbi.... 

#mulai perbaikan diri sendiri 

Komentar

  1. Pelajaran banget buat saya

    Sudut pandang tidak bisa disamaratakan, dan tidak bisa dipaksakan
    TErimaksaih Pak...

    BalasHapus
  2. Tiap manusia punya kelebihan dan kekuranga. Bagaimana kita bisa ikhlas menerima semuanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara ⏳

IRI

KEHILANGAN