Shubuh Ceria
Cermin 1
Ah sulit sekali mata ini terbuka
Seolah ada lem lengket cap Gajah yang tumpah di mataku
Mutiaaaaaaaaaaaa.........
Suara menggelegar menancap di gendang terdalam telingaku, yang ternyata teriakan syahdu pipih dan mimih ku. Entah panggilan yang keberapa mereka berusaha membangunkan anak semata wayangnya ini. Hadeuh..... Sumpah susah beut melek nya gaes.
Ini bukan kali pertama sulitnya aku bangun dari mimpi indah malam. Nyaris hampir setiap hari bangun shubuh beratnya minta ampun. Niat udah, berdoa sudah, tidur lebih awal juga sudah tapi bangun nya tetap aja bikin Mimih Pipih naik darah. Gak kebayang kalau tidur nya lebih malam atau begadang sekalian. Bisa lewat tuh shubuh atau bisa dijamak sama dhuha atau sama dhuhur sekalian, ambyaar.....
Apa perlu konsultasi sama konsultan ya?
Ampe segitunya ya
Hi.... Hi.... Hi.....
Jadi ingat salah satu sekuel film Spongesbob Square Pants. Bagaimana upaya keras sahabat Patrick ini bisa bangun tidur lebih awal karena takut terlambat kerja. Segala cara di coba dari gonta ganti jenis alarm hingga penggunaan teknologi tinggi serba otomatis tetap ga bangun juga alias lagi lagi kesiangan dan terlambat kerja.
Kamu susah bangun juga?
Mau disiram air? Tapi sayang siapa yang mau jemurin kasur atau spring bed basahnya?
Mau diseret dari ranjang tidur? Diseret, kaya apa aja
Tapi sampai kapan ya kesiangan melulu?
Bodo amat lah
Pertarungan yang terus bertarung
Ternyata bangun shubuh sesuatu banget ya
Woy bangun woy....!!!
Cermin 2
الحمد الله الذي احيانا بعدما اماتنا واليه النشور
لا اله الا الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير
امين
Samar namun makin jelas, jam dinding kamar asrama putri seukuran 6 x 10 meter itu menunjukkan pukul 03.00 BBWI. Nampaknya belum ada santriwati pun yang bangun qobla shubuh ini. Agak berat memaksa tubuh ini untuk melanjutkan ke kamar mandi berwudhu kemudian sholat tahajud, tenggelam bersama waktu malam yang semakin menghilang. Rasa dingin, mata yang masih sulit terbuka dengan sempurna, lelah karena belajar dan belajar lagi. Mungkin inilah jeratan setan yang membelit anak manusia setiap akan bangun tidur, yang tujuannya menggagalkan manusia dari sholat shubuh termasuk ibadah sunnah utama sholat tahajud.
Sebelum masuk ke pesantren Ayah Bunda sudah mengajariku pentingnya bangun sebelum shubuh. Alhamdulillah aku anak semata wayangnya cukup mudah dibangunkan.
Mutieee..........
Dengan lebut Bunda membangunkanku, ah jadi ingin pulang kangen sama Bunda.
Kalau di Pesantren pastikan bangun jangan sampai telat ya. Di siram air atau diteriakin kakak senior sudah hampir jadi kegiatan rutin, belum lagi hukuman yang selalu dibayar cash tanpa ampun kepada si pelaku bangun kesiangan. Tapi tetep aja, pelakunya itu - itu juga, ga bosan ya atau sudah beradaptasi? Capek deh..
Mutie...hei... Bangun.... !!!
Astagfirullah dah Qomat lanjut tepok jidat dah...
Cermin 3
Adat Jawa yang masih cukup kental memisahkan duo kembar identik Mutia dan Mutie. Mutia dengan rambut keriting kecil nya sedangkan Mutie berambut lurus terurai panjang. Siapa pun akan sulit membedakan ketika mereka berdua memakai kerudung jilbab nya. Amboi... Bagai Pinang tak terbelah, nyaris sama persis.
Mutia tinggal bersama Pipih Mimih nya yang tercinta di provinsi ujung paling Barat Pulau Jawa. Hidup sederhana dengan suasana kampung nan asri kolaborasi Betawi, Sunda juga Jawa alias Perbatasan Penyangga Ibukota Jakarta. Kampung Kota atau Kota Kampung, entahlah yang jelas jika lebaran masih pulang kampung. Kagak nyambung Bung.....
Sedangkan Mutie bersama Ayah Bunda nya (lebih tepatnya Paman dan Bibi Mutie) tinggal berada cukup jauh di tengah tanah Jawa Dwipa yang luar biasa. Ada sawah hijau, sungai beserta bebatuan asli, dan tak ketinggalan view gunung aktif terbesar & tertinggi di Jawa Tengah. Wuah... kamu pada pasti betah deh berlama - lama di sini, kata orang Arab serasa di Surga. Nays.....
Komentar
Posting Komentar