AKU TERPAKSA


Matahari beranjak tinggi, pelan namun pasti semakin panas suhu menghiasi ruang di alam semesta yang fana ini. Semangat, entah masih ada atau menguap bersama semilir lembutnya angin pagi. Hari berulang namun rasa masih berasa sama, sulit mengubahnya. Seolah perlu daya dobrak yang dahsyat, paling tidak untuk menatap hari ini saja. Satu dua ayat belum berpola apalagi satu dua surat. Mengapa juga harus aku? Mengapa tidak yang lain? Mengapa harus hafal Alquran? Ruwet aku memikirkannya. Tinggal huruf demi huruf terangkai menjalari benang halus otak kecil dan otak besar ku. Panas, menekan nekan kepala hingga meluncur indah keluar dari rongga dada dan mulut ku. 

Setengah terpaksa atau lengkap terpaksa aku menyeret langkah ini, untuk sekedar menyetorkan hafalan Alquran yang susah payah ditempelkan pada diri. Seolah ruang demi ruang yang terlewati begitu jauh, melewati lembah gunung dan samudera. Komat kamit, walau terpaksa tapi hafalan ini jangan sampai gagal terujikan dan beranjak ke surat berikutnya. Membuncah harapan semoga Allah swt memudahkan. Jujur lebih enak nonton kartun Ninja Hattori, Doraemon, Spongesbob, Naruto atau mabar Games Online bareng kawan. Lebih nyaman, ga pusing, ga diatur atur dan bebas mau apa aja. 

Ayah Bunda yang terlihat bangga, mengetahui aku di wisuda hafal seperenam dari 30 juz Alquran. Aku biasa saja, seolah tak merasa. Padahal siswa yang lain setengah mati menghafal namun tidak seberuntung aku yang lebih cepat dari yang lain. Ketika aku ditanya, mau memberikan hadiah Mahkota untuk Ayah Bunda di surga? Tentulah aku menganggukkan kepala tak terkira. Tapi syaratnya hafal Alquran. Ini yang membuat aku ragu, mungkinkah? (seperti judul lagu bang Haji Andre Stinky yang banting stir jadi komedian yang justru makin terkenal ups) 

Guru Pembimbing Alquran yang selalu sabar dan tak sedikit nasihat meluncur deras menyemangati yang terkadang membosankan. Tidak juga menyadarkan keterpaksaanku. Semakin tahun semakin berat dan menjenuhkan. Serius, tak mudah jadi Hafidz Quran. Guru yang lain pernah mengungkapkan Hafidz Quran itu dua pertiga hidupnya untuk Alquran (hafalan, murojaah, tilawah dsb). Jika tidak, Alquran akan pergi meninggalkan Sang Hafidz Quran seperti Onta liar yang tidak di ikat. Lalu pergi entah kemana, tak jelas dan tau sampai kapan. 

Sebenarnya aku menghafal Alquran ini untuk apa?  Untuk siapa?  Mengapa aku terpaksa? Berbagai pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Sebab jawabannya sudah sering disampaikan oleh para Guru Alquran. Dan barokah Alquran itu sendiri, akan memahamkan Sang Penghafal yang ikhlas. Mungkin ada salah niat di awal aku menghafal, mungkin terobsesi dengan tawaran hadiah yang menggiurkan, mungkin juga mengharap pujian setinggi langit, ingin bergelar Al Hafidz atau apalah... 
Kapan aku tak terpaksa??? 
Mungkin waktu yang akan menjawab
Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun baru faham
Kalau kamu??? 


Komentar

  1. Semangat untuk para hafidz Qur'an... Semoga senantiasa Allah SWT. Mempermudah segala sesuatu nya... Tetap istiqamah ya.
    Semoga ana juga bisa seperti Antum² semuanya.

    Aamiin.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara ⏳

IRI

KEHILANGAN