Bodoh atau Malas Berpikir?
BODOH ATAU MALAS BERPIKIR?
A. Pendahuluan
Mundurnya kejayaan peradaban Islam yang ditandai berakhirnya kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924, menjadikan umat muslim mengalami perubahan cukup drastis diberbagai sektor kehidupan. Dari sisi politik kenegaraan yang ditandai dengan terpecahnya wilayah kekuasaan kaum muslimin menjadi beberapa negara kecil dan tidak sedikit negara yang mengalami ketidakstabilan politik dengan perebutan kekuasaan. Bidang sosial ekonomi yang semakin mengkhawatirkan di sebagian besar negeri muslim seperti di benua Asia dan Afrika seperti kemiskinan, kejahatan, narkoba dan lainnya. Begitu pun permasalahan karakter atau akhlak, khususnya di kalangan generasi muda kaum muslimin yang mulai tergerus dengan degradasi moral yang dibungkus dengan modernisasi dan digitalisasi.
Permasalahan kaum muslimin terus berlanjut hingga saat ini. Kemunduran pun terjadi di bidang krusial lain nya yaitu pendidikan. Indikasi mundurnya dunia pendidikan Islam dapat kita perhatikan dari kurangnya minat baca, hanya mengejar nilai raport atau ujian, budaya mencontek, membeli “kursi” sekolah, pendapatan para guru yang rendah, pengalokasian anggaran pemerintah yang tidak memprioritaskan pada bidang pendidikan dan masih banyak lagi “pekerjaan rumah” yang perlu diperbaiki kedepannya.
Benang kusut dunia pendidikan Islam sebenarnya dapat mulai di urai dengan memperbaiki pribadi-pribadi muslim dan muslimah secara komprehensif dan berkesinambungan. Pola pikir umat Islam sudah seharusnya di “modernisasi” dengan dua jalan sekaligus yaitu jalan orisinilitas para ulama sebagai pewaris para nabiyullah dan jalan para filsuf pemikir kekinian yang beradaptasi dengan zamannya namun tentunya tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Pertanyaan “bodoh atau malas berpikir?” yang terjadi pada mayoritas umat Islam menjadi relevan untuk saat ini. Padahal umat Islam ditakdirkan Allah Swt menjadi umat dan agama yang terbaik, memiliki sejarah panjang kejayaan dan kegemilangan peradabannya. Yang tak kalah penting sesungguhnya adalah umat Islam memiliki Tuhan Sang Maha Penguasa dan Pemilik alam semesta beserta isinya yaitu Allah Swt. Tuhan yang memberikan karunia yang tak terhingga, salah satunya adalah anugerah akal untuk berpikir serta hati sebagai penyeimbang dan penyelaras agar selalu dalam koridor di jalan-Nya.
Di dalam artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca menghargai dan bersyukur atas karunia “berpikir” dengan terus mengaktifkan pemikiran dan perasaannya seperti para filsuf kenamaan: Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Khawarizmi dan lainnya. Atau setidaknya tidak malas untuk sekedar berpikir dan berperasaan yang bermanfaat bagi lingkungan, masa depan juga diri sendiri. Sehingga kejayaan dan kegemilangan Islam tidak hanya berupa mimpi dan “jargon” semata namun dapat terwujud di masa yang akan datang.
Selain itu, artikel juga disajikan untuk tujuan agar pembaca: mengetahui sejarah singkat filsafat keislaman, pentingnya berfilsafat (berpikir) dan bagaimana memulai berpikir serta menikmatinya. Semoga tulisan sederhana ini pula, membuka hati dan kepedulian umat Islam khususnya generasi muda “kekinian” agar turut berkontribusi menjayakan al-Islam serta “membuang” rasa malas yang terlanjur tertanam.
B. Pembahasan
1. Sejarah Singkat Para Filosof Islam
Sekitar 700 tahun Islam menjadi “super power” di dunia pasca runtuhnya kekaisaran Romawi di Eropa dan kerajaan Persia di Asia. Filsafat Islam juga menemukan kejayaannya yang tidak kalah berpengaruh dari filsafat Yunani seperti yang dipopulerkan Socrates, Plato, Aristoteles atau lainnya. Beberapa filosof Muslim yang berpengaruh dan memiliki nama besar di antaranya adalah:
a) Al-Kindi (801-866 M).
Nama Al-Kindi dinisbatkan kepada bani atau suku yang menjadi asal kelahirannya, yaitu Bani Kindah. Bani Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dahulu menempati sebelah selatan wilayah Jazirah Arab. Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Ash-Shabbah bin ‘Imran bin Ismail bin Al-Asy’ats bin Qays Al-Kindi. Ia dilahirkan di Kufah tahun 185H (801M). Ayahnya, Ishaq Ash-Shabbah, merupakan gubernur Kufah pada masa pemerintahan khalifah Al-Mahdi dan Harun al-Rasyid dari Bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah Al-Kindi lahir. Al-Kindi dikenal dengan sebutan Failasuf Al-‘Arab, karena ia merupakan satu-satunya filosof Muslim yang berasal dari keturunan Arab.
Karir Al-Kindi menanjak setelah menetap di istana pada masa pemerintahan kekhalifahan Al-Mu’tashim yang menggantikan khalifah Al-Makmun pada tahun 218H (833M), karena ia dipercaya untuk menjadi guru pribadi bagi putera Al-Mu’tashim, yaitu Ahmad bin Al-Mu’tashim. Pada masa inilah Al-Kindi berkesempatan menulis karya-karyanya, setelah sebelumnya pada masa Al-Makmun ia menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagai pelopor yang menjebatani agama dan filsafat Yunani, Al-Kindi banyak mendapat penentangan dari para ahli agama. Ia dituduh merendahkan dan membodoh-bodohkan para ulama yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Cukup banyak fitnah yang dituduhkan kepada Al-Kindi, terutama saat pemerintahan khalifah Al-Mutawakkil. Pada akhirnya Al-Kindi menyingkirkan dirinya dari kemelut politik di istana dan meninggal dunia pada tahun 252H (866M) (Azhar Basyir, 1993: 80-81).
Karya ilmiah Al-Kindi kebanyakan berupa makalah. Ibnu Nadim, dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan karyanya lebih dari 230 makalah; sementara George N. Atiyeh menyebut ada 270 makalah. Karya-karya Al-Kindi tentang filsafat menunjukan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batasan-batasan makna dan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Dari karangan-karangannya diketahui bahwa Al-Kindi adalah penganut aliran eklektisme, yaitu suatu faham pemikiran atau kepercayaan yang memilih dan memilah teori atau metode yang terbaik kemudian dikaji ulang (diperdalam kembali) hingga menemukan hal yang lebih baik lagi. Seperti contoh dalam bidang etika ia mengambil pendapat Socrates dan Plato; dalam psikologi ia mengambil pendapat Plato; dan dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles. Meskipun demikian, walau ia mempelajari filsafat Yunani, kepribadian Al-Kindi sebagai seorang muslim tetap tidak tergoyahkan.
Sebagai seorang pemikir muslim dan pelopor yang dengan sadar berusaha mempertemukan antara agama dan filsafat, Al-Kindi berkesimpulan bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Filsafat menurut Al-Kindi adalah semulia-mulia ilmu, sedangkan Ilmu Tauhid atau teologi adalah sebagai cabang termulia dari filsafat. Filsafat sesungguhnya sejalan dan dapat mengabdi kepada agama. Dengan demikian sejatinya berfilsafat seharusnya tidak berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama seseorang, seperti yang sering dituduhkan banyak pihak. Al-Kindi menegaskan kembali bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, sebab yang menimbulkan semua kebenaran, yaitu filsafat pertama. Menurutnya jika ada hakekat-hakekat atau kebenaran-kebenaran maka mesti ada hakekat atau kebenaran pertama (al-Haqq al-Awwal) dan hakekat pertama itu adalah Tuhan Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa.
Menurut Al- Kindi, Tuhan merupakan Wujud Yang Haq atau wujud yang sebenarnya yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama-lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada selama-lamanya. Tuhan merupakan Wujud Sempurna yang tidak pernah didahului wujud yang lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan melalui perantara-Nya. Pendapat Al-Kindi sejalan dengan pemikiran Aristoteles tentang Causa Prima dan Penggerak Pertama yaitu penggerak yang tidak bergerak. Al-Kindi mengajukan pertanyaan yang juga dijawab oleh dirinya sendiri: “Mungkinkah sesuatu menjadi sebab adanya sendiri, ataukah hal itu tidak mungkin?”. Jawabannya yaitu: “Yang demikian itu tidak mungkin”. Dengan demikian, alam semesta ini baru, ada permulaan dalam waktu; demikian juga alam semesta ini ada akhirnya; oleh karena itu alam harus ada yang menciptakan. Karena alam itu baru, maka alam merupakan ciptaan yang mengharuskan adanya pencipta, yang mencipta dari tiada (creatio ex nihilo) yaitu Allah Swt.
b) Al-Farabi (872-950M).
Filosof besar lain yang dimiliki Islam adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlagh al-Farabi. Al-Farabi merupakan putera dari seorang panglima perang Dinasti Samani (874-99M) yang berkuasa di daerah Transoxania dan Persia. Nama al-Farabi diambil dari nama tempat kelahirannya, yaitu Farab, Transaxonia; dilahirkan pada tahun 872 M, dan berasal dari keturunan Turki. Di waktu usia muda ia pergi ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat, lalu ia mempelajari filsafat, metafisika, etika, logika, matematika, ilmu politik, musik dan lain-lain. Al-Farabi pernah juga menjadi murid Bisyr bin Yunus, salah seorang penerjemah yang membantu Hunain bin Ishaq di Bait al-Hikmah. Dari Baghdad (Irak) kemudian ia pindah ke Aleppo (Suriah) dan tinggal di istana Saif Al-Daulah dari dinasti Hamdani yang berkuasa di Suriah. Di istana inilah Al-Farabi banyak mengembangkan pemikirannya, karena istana ini merupakan tempat berkumpul dan bertemunya para ilmuwan. Di kalangan para filosof muslim, Al-Farabi dikenal dengan julukan al-Mu’alim al-Tsani (Guru Kedua); sementara yang dimaksud Guru Pertama (al-Mu’alim al-Awwal) adalah Aristoteles.
Mengenai keterkaitan filsafat dan agama, sebagaimana al-Kindi, al-Farabi juga berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat dengan agama. Tetapi dalam masalah ini ia menekankan bahwa filsafat dapat mengganggu keyakinan seorang awam. Untuk itu pemikiran yang bercorak filsafat harus dihindarkan dari orang-orang awam.
Di antara pemikiran filsafat al-Farabi yang berkaitan dengan masalah ketuhanan dan terjadinya alam semesta terlihat dalam pemikirannya tentang “filsafat emanasi”. Dalam filsafatnya ini al-Farabi sebagaimana halnya Plotinus menerangkan bahwa “segala yang ada atau alam ini memancar dari Zat Tuhan melalui akal-akal yang berjumlah sepuluh”. Antara alam materi dengan Zat Tuhan terdapat perantara. Tuhan berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Pertama. Akal Pertama berpikir tentang Tuhan, dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Kedua. Demikian seterusnya sampai memancar Akal Kesepuluh. Akal Pertama selanjutnya berpikir tentang dirinya, dan dari pemikiran ini timbullah langit pertama. Akal-akal lainnya juga berpikir tentang dirinya masing-masing, dan dari pemikiran itu timbullah planet-planet yang menghuni alam ini. Dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa tidak mempunyai hubungan langsung dengan alam materi yang mengandung arti banyak ini. Demikian penjelasan Al-Farabi tentang bagaimana yang banyak bisa muncul dari Yang Satu yaitu Tuhan alam semesta raya.
c) Ibnu Sina (980-1037 M).
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Husein bin Abdillah bin Sina. Popularitas Ibnu Sina melampaui al-Kindi dan al-Farabi. Ia terlahir di Afshana yaitu suatu wilayah di dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Di Barat (Eropa), Ibnu Sina dikenal dengan nama atau sebutan Avicenna, dan orang lebih mengenalnya dalam bidang pengobatan (kedokteran) dari pada filsafat. Dalam bidang kedokteran karyanya yang terkenal yaitu al-Qanun fi al-Tibb dan al-Syifa. Untuk bidang ini pula Ibnu Sina mendapat gelar the Prince of the Physicians. Sementara di dunia Islam Ibnu Sina dikenal dengan sebutan al-Syaikh al- Rais (Pemimpin Utama dari para Filosof).
Dalam pemikiran filsafat mengenai Tuhan dan kejadian alam, Ibnu Sina juga mempunyai faham emanasi seperti Al-Farabi. Dari Tuhan memancar Akal Pertama, dan dari Akal Pertama memancar Akal Kedua, demikian seterusnya sampai Akal Kesepuluh. Menurut Ibnu Sina akal-akal itu merupakan malaikat, dan Akal Pertama adalah malaikat tertinggi, kemudian Akal Kesepuluh, yang mengatur bumi, yaitu Jibril. Menurut Ibnu Sina, Akal Pertama mempunyai dua sifat, yaitu sifat wajib wujudnya, sebab ia sebagai pancaran Tuhan dan sifat mungkin wujudnya, jika dilihat dari hakekat dirinya, sebab ia sebagai hasil dari sesuatu yang lain. Dengan demikian Akal Pertama memiliki tiga obyek pemikiran, diantaranya: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya, dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan itulah timbul akal-akal; dari pemikiran tentang dirinya yang wajib wujudnya timbullah jiwa-jiwa; dan dari pemikiran tentang dirinya yang mungkin wujudnya timbul pula langit-langit (planet).
d) Ibnu Rusyd (1126-1198M)
Nama lengkap dari Ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad bin Muhammad bin Rusyd. Ibnu Rusyd berasal dari keluarga para hakim di Andalusia (Spanyol). Ia sendiri pernah menjadi hakim di kota Seville (Spanyol). Selain sebagai hakim, ia pun pernah menjadi dokter istana Cordova (Spanyol). Karena sebagai ahli hukum dan filosof, pemikiran Ibnu Rusyd banyak berpengaruh di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur (1184-1199M).
Karya terkenal di bidang fiqih adalah kitab Bidayah al-Mujtahid; sedangkan dalam bidang kedokteran adalah Kitab al-Kulliat. Tulisan-tulisan lainnya adalah menyangkut bidang filsafat. Tentang Filsafat dan Agama, Ibnu Rusyd mempunyai pendapat bahwa antara Islam dan filsafat tidak bertentangan. Bahkan ia menambahkan bahwa setiap orang Islam diwajibkan atau setidaknya dianjurkan mempelajari ilmu filsafat. Di antara tugas filsafat adalah berpikir tentang wujud untuk mengetahui Pencipta yang menciptakan semua yang ada alam semesta ini. Ciri-ciri orang yang berpikir adalah jika manusia berpikir tentang wujud dan alam sekitarnya untuk mengetahui adanya Tuhan semesta alam. Karena cukup banyak ayat di dalam al-Qur’an yang menyatakan demikian, maka dengan kata lain sesungguhnya al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berfilsafat (Nasution, 1973: 11-54).
Sebenarnya masih cukup banyak para ilmuwan Islam lain yang juga mempelajari filfasat serta mengembangkannya. Dari sedikit perjalanan panjang sejarah keemasan Islam di atas, sudah seharusnya umat Islam termotivasi untuk mengikuti jejak kesalihan, ketelitian dan kepandaian para ilmuwan Islam. Meneladani bagaimana mereka begitu bersungguh-sungguh, mengatur waktu dengan baik, memiliki budi pekerti yang luhur, ibadah yang rajin dan memaksimalkan pemikiran mereka.
2. Pentingnya Berfilsafat (Berpikir)
Manusia tidak mungkin terlepas dari kegiatan berpikir, sejak ia bangun tidur di pagi hari hingga saatnya ia merebahkan diri melepas penat tidur kembali di malam hari. Dari persoalan yang tidak begitu penting sampai persoalan besar dan melibatkan banyak pihak, semuanya membutuhkan proses berpikir. Jadi sangatlah aneh dan tidak pada tempatnya jika manusia tidak berpikir atau malas untuk berpikir. Mau atau tidak mau berpikir itu sebuah keniscayaan hidup yang harus kita terima dan kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Berpikir tentunya menggunakan akal, Islam memperoleh dorongan untuk berpikir dari dua sumber, yaitu dari Al-Qur'an dan dari luar Al-Qur'an (Filsafat dari Yunani dan India), dua daerah ini sejak dahulu memiliki tradisi rasional yang tinggi (Tafsir, 2012:209). Salah satu dari fenomena itu adalah munculnya filsafat Peripatetik. Filsafat Peripatetik adalah tradisi yang memegang teguh peranan akal, disamping itu juga sangat memegang kuat ajaran-ajaran serta model logika dan rasionalitas ala Aristoteles (Bakker S.Y., 1978: 13-14). Aliran filsafat ini dibedakan ke dalam dua golongan yaitu: filsafat pertama adalah yang berkembang di daerah timur dari khalifah Abbasi. Para tokoh filsafat pertama yang ternama seperti al-Kindi, Ibnu Sina, al-Farabi, dan al-Rozi. Sedangkan filsafat kedua berkembang di Spanyol dan di Maghrib (Maroko) sekitar abad ke-12, dengan tokoh-tokohnya yang paling terkenal yaitu Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail dan Ibnu Bajjah (Fakhry, 2001: 97).
Penting bagi kita untuk menjadi seorang pemikir yang mandiri yaitu:
a) Agar mampu dan tangguh memecahkan suatu masalah
Permasalahan dalam kehidupan seiring meningkat usia maka semakin bertambah dan kompleks. Jadi diperlukan keterampilan berpikir yang lebih mendalam dan dewasa dalam menyikapinya.
b) Agar dapat membuat keputusan yang matang
Dengan senantiasa melatih akal untuk berpikir maka hasil dari pemikiran, penelitian perenungan dan diskusi menjadi lebih berkualitas, tuntas dan matang. Sehingga keberhasilan dan kesuksesan bisa lebih di optimalkan.
c) Agar menjadi orang yang tak pernah berhenti belajar.
Ungkapan “menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat” seharusnya menginspirasi kita untuk tidak lelah terus belajar sampai kapan pun. Tak ada lagi kamus malas dalam berpikir dan belajar seumur hidup kita.
Seorang pemikir mandiri tentunya sejalan dengan meningkatnya jenis pekerjaan di masa depan dan membutuhkan para pekerja handal yang memiliki kemampuan berpikir yang baik. Namun faktanya, selama ini kemampuan berpikir masih belum merasuk ke jiwa sehingga belum dapat berfungsi maksimal, apalagi di zaman kekinian dimana masyarakatnya serba ingin yang praktis-praktis saja ((Muhfahroyin, 2009: 91). Maka mulai lah kita mencoba untuk mengekspresikan akal dengan memaksimalkan berpikir.
3. Bagaimana Memulai Berpikir serta Menikmatinya
Sederhananya berpikir itu berarti apa yang sudah direncanakan tentunya telah dipikirkan secara matang serta memiliki konsep yang jelas kedepannya. Bagaimana kita memulai dan membiasakan berpikir bahkan bisa menikmatinya?
a) Sadarilah bahwa Tuhan menganugerahkan akal untuk berpikir dan akan dipertanggung-jawabkan semua hasil pemikiran dihadapan-Nya kelak
b) Niatkan berpikir Ikhlas karena Allah dan berpikir untuk yang baik-baik saja
c) Mulailah dengan berpikir yang ringan dan kita mampu menjangkaunya
d) Banyak-banyaklah membaca berbagai sumber bacaan baik berbentuk hardcopy seperti: buku, majalah, surat kabar dan sebagainya, ataupun berbentuk digital
e) Berpikir juga dapat dengan memandang alam semesta semisal: memperhatikan gunung, lautan, sungai, lembah dan lainnya, kemudian merenungi dan mengambil hikmah darinya
f) Hasil pemikiran dapat juga diperoleh dari perbincangan atau diskusi dengan teman atau oranglain
g) Biasakan selalu berpikir rasional, sistematis, kritis, radikal, konsisten, konprehensif, bebas dan tak lupa dapat dipertanggung-jawabkan
h) Pilihlah teman diskusi atau teman bicara yang baik serta memiliki wawasan yang luas agar pengetahuan kita semakin bertambah
i) Tidak pelit membagi ilmu yang kita punya kepada oranglain yang membutuhkan agar menjadi berkah
j) Mencintai ilmu, para penuntut ilmu, penyebar ilmu (guru) dan pemberi sekaligus pemilik ilmu yaitu Tuhan Allah Ta,ala (Antara, 2022)
Jadi berfilsafat atau berpikir adalah salah satu ciri khas kaum muslimin wal muslimat diseluruh dunia. Berlaku sejak umat nabi Adam ‘Alaihissalam hingga umat nabi Muhammad Saw di akhir zaman. Di mulai dari menyadari kepemilikan akal, niat yang benar, memulai dengan yang sederhana, konsisten dalam berpikir, penggunaan media atau metode berpikir dan teruslah berpikir hingga akhir hayat. Selamat dan menikmati berpikir kawan…..
C. Kesimpulan
Kisah-kisah para filosof muslim memang tidak lekang oleh zaman. Selalu akan dikenang, dipelajari, diambil hikmahnya serta diserap saripati semangatnya. Sudah seharusnya umat Islam termotivasi untuk mengikuti jejak kesalihan, ketelitian dan kepandaian para ilmuwan Islam. Meneladani bagaimana mereka begitu bersungguh-sungguh, mengatur waktu dengan baik, memiliki budi pekerti yang luhur, ibadah yang rajin dan memaksimalkan pemikiran mereka.
Manusia tidak mungkin terlepas dari kegiatan berpikir, sejak ia bangun tidur di pagi hari hingga saatnya ia merebahkan diri melepas penat tidur kembali di malam hari. Dari persoalan yang tidak begitu penting sampai persoalan besar dan melibatkan banyak pihak, semuanya membutuhkan proses berpikir. Jadi sangatlah aneh dan tidak pada tempatnya jika manusia tidak berpikir atau malas untuk berpikir. Mau atau tidak mau berpikir itu sebuah keniscayaan hidup yang harus kita terima dan kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Jadi berfilsafat atau berpikir adalah salah satu ciri khas kaum muslimin wal muslimat diseluruh dunia. Berlaku sejak umat nabi Adam ‘Alaihissalam hingga umat nabi Muhammad Saw di akhir zaman. Di mulai dari menyadari kepemilikan akal, niat yang benar, memulai dengan yang sederhana, konsisten dalam berpikir, penggunaan media atau metode berpikir dan teruslah berpikir hingga akhir hayat.
D. Daftar Pustaka
Antara, D. (2022). Contoh Filsafat Dalam Kehidupan Sehari Hari. Nibiobank.Org.
Azhar Basyir, A. (1993). Refleksi Atas Persoalan Keislaman: Seputar Filsafat. Hukum, Politik, dan Ekonomi. Mizan.
Bakker S.Y., J. W. M. (1978). Sejarah Filsafat dalam Islam. Kanisius.
Fakhry, M. (2001). Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Mizan.
Muhfahroyin, M. (2009). Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pembelajaran Konstruktivistik. Pendidikan Dan Pembelajaran, 16.
Nasution, H. (1973). Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Bulan Bintang.
Tafsir, A. (2012). Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. PT Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar